Kamis, 04 Desember 2014

Pantai Indrayanti Yogyakarta

Gunungkidul terkenal dengan banyaknya pantai yang masih perawan. Meski demikian, rupanya ada satu pantai di Gunungkidul yang memiliki suasana ala Bali. Restoran dan cottage berjejer di sekitar pantainya. Inilah Pantai Indrayanti! Pantai Indrayanti mempunyai konsep yang berbeda dengan pantai-pantai lain di GunungKidul, DI Yogyakarta. Meski sama-sama terdiri dari hamparan pasir putih serta batuan karang, namun Pantai Indrayanti mempunyai nuansa berbeda. Pengelola pantai mencoba memberikan sentuhan modern untuk menarik para pengunjung. Hal ini terlihat dari penataan lokasi pantai serta sarana yang disediakan di sana. Restoran terlihat berjejer di sepanjang pinggir pantai begitu kita memasuki lokasi wisata. Payung-payung dengan warna yang indah terpancang pada tiangnya. Terlihat menghiasi pasir putih serta batu karang pantai Indrayanti. Konsep ini tidak ditemukan di pantai lain yang ada di Gunungkidul. Konsep modern lain yang ditawarkan pantai ini adalah fasilitas jet sky yang bisa disewa para pengunjung. Kita juga tidak bisa membuang sampah sembarangan di Pantai Indrayanti, sebab akan dikenakan denda sebesar Rp 10 ribu bagi yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Sehingga sepanjang pantai terlihat bersih dan tertata rapi. Fasilitas lain yang ditawarkan pengelola pantai yaitu cottage yang berjumlah tujuh dan letaknya di sekitar pantai. Tempatnya nyaman, karena selama menginap kita dapat menikmati suasana pantai di malam hari. Untuk menginap di cottage yang disediakan, kita cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 300 ribu sampai Rp 650 ribu per malam. Sedangkan restoran menyediakan menu sea food, ayam goreng, ayam bakar serta minuman berupa es kelapa muda yang segar. Harganya pun cukup murah, hanya Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu per porsi. Nama Indrayanti berasal dari nama pengelola pantai. Pantai yang terletak di Kecamatan Tepus tersebut termasuk pantai bagian timur di Kabupaten Gunungkidul. Pantai Indrayanti memang lagi fenomenal saat ini. Para wisatawan banyak yang datang dari DI Yogyakarta dan wilayah sekitarnya. Untuk menuju lokasi cukup mudah, karena jalannya sudah beraspal halus. Namun para wistawan disarankan membawa kendaraan sendiri karena di lokasi tidak ada angkutan khusus. Tiket masuk sebesar Rp 5 ribu, baik untuk mobil atau mini bus. Pantai Indrayanti ini menarik, karena terdiri dari hamparan pasir putih serta batuan karang. Di mana terbentuknya melalui proses sampai ribuan tahun. Oleh karena itu, tidak rugi apabila menjadikan Indrayanti sebagai pilihan destinasi anda saat liburan kali ini. Suasana serba modern di sekitar pantai, mungkin membuat Anda merasa sedang di Bali.

MUSEUM BENTENG VREDEBURG YOGYAKARTA

Sejarah
Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berrhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja- raja Jawa waktu itu. Melihat kemajuan yang sangat pesat akan kraton yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, rasa kekhawatiran pihak Belanda mulai muncul. Pihak Belanda mengusulkan kepada sultan agar diijinkan membangun sebuah benteng di dekat kraton. Pembangunan tersebut dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi dibalik dalih tersebut maksud Belanda yang sesungguhnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam kraton. Letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju kraton menjadi indikasi bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blokade. Dapat dikatakan bahwa berdirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda. Besarnya kekuatan yang tersembunyi dibalik kontrak politik yang dilahirkan dalam setiap perjanjian dengan pihak Belanda seakan-akan menjadi kekuatan yang sulit dilawan oleh setiap pemimpin pribumi pada masa kolonial Belanda. Dalam hal ini termasuk pula Sri Sultan Hamengku Buwono I. Oleh karena itu permohonan izin Belanda untuk membangun benteng dikabulkan.

MONUMEN SERANGAN UMUM 1 MARET YOGYAKARTA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA (UMY)